IMG_3756

Geng Remaja dan Pemuda Indonesia

GENG REMAJA, SISI KELAM PEMUDA INDONESIA DALAM PERGAULAN GLOBAL ¹

Faishal Hilmy Maulida²

Identitas Buku

Judul Buku      : Geng Remaja, Fenomena dan Tragedi Geng Remaja Dunia                    (Teen Gang, A View Global)

Penulis             : Rob White. et.al

Penerbit           : Gala Ilmu Semesta

Cetakan           : 1, November Tahun 2008

Tebal               : vi + 448 halaman

“ …….Sekadar informasi untuk kalian, kami harus memberi tahu kalian bahwa kami, yang terabaikan dan terbuang, yang memiliki hak hidup dan berbangsa. Putra-putri negeri ini, yang berada di sini di atas jalanan akan menyebabkan masalah ke manapun kami pergi. Sangatlah jelas bahwa tidak ada orang yang peduli kepada kami. Itulah mengapa kami akhirnya membuat kalian menoleh dan melihat kami, bahwa kami masih tetap ada di sini……..( Surat dari “Criminal of KGK Koboni of Horse Camp, Port Moresby ”.

            Setelah tiga perempat abad berlangsungnya pemikiran dan penelitian tentang geng yang ada di Amerika Serikat, masih belum bisa dimunculkan definisi yang memuaskan tentang kata geng. Dalam dunia ilmu sosial dan pengadilan remaja, geng biasanya dijelaskan sebagai sebuah masalah sosial. Ketika obat bius dan kejahatan adalah bagian dari aktivitas geng, ada sedikit ketidaksepakatan tentang akar persoalannya. Tetapi, yang sesungguhnya kita sebut geng itu masih tetap tidak jelas.

 

 

¹ Disajikan pada Forum Diskusi dengan tema Pemuda Indonesia pada Rabu, 11 April 2012

² Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Prodi Ilmu Sejarah

 

Kita semua terpaku pada isu-isu yang memberi pengaruh kepada kaum muda. Di Amerika Serikat saja, hampir 5.000 komunitas yang melaporkan memiliki geng remaja (Moore dan Terrett, 1998). Komunitas-komunitas ini mencatat adanya 31.000 geng remaja dengan jumlah anggota yang berkisar 850.000 anak-anak muda. Jumlah ini menggambarkan pengaruh geng remaja yang signifikan pada komunitas-komunitas lokal di seluruh Amerika Serikat.

Rob White, dalam kontribusinya tentang geng remaja di Australia (Bab 1), menyatakan bahwa media massa dan para pemimpin politik mungkin menyamakan kegiatan anak muda yang nongkrong di jalan sebagai aktivitas geng. Ia mengingatkan kita bahwa aktivitas jalanan merupakan tempat yang lazim diantara anak-anak muda dan tidak perlu dijadikan indikator tentang aktivitas geng,meskipun ditafsirkan seperti itu.³ Hazlehurst dan Hazlehurst (1998) mengidentifikasi “keanggotaan remaja laki-laki” (hlm.5) sebagai unsur dasar dari geng remaja. White (Bab 1) membicarakan Howell (1998) dan Short (1968) ketika memberikan tekanan kebutuhan untuk membedakan geng remaja dengan bermacam-macam formasi kelompok dan subkultur yang lain, misalnya kelompok persahabatan remaja yang biasanya menghabiskan banyak waktu di jalanan dan sub kelompok remaja lainnya.

Apabila kita mengacu dalam pernyataan Rob White bahwa kegiatan anak muda yang nongkrong di jalan sebagai aktivitas geng itu tidak tentu benar adanya, jika dikaitkan dengan aktivitas pemuda di Indonesia yang pada era global ini lebih banyak meluangkan waktu kosongnya untuk nongkrong di pinggir jalan, atau lazim kita sebut “ngopi” tentunya kurang tepat bila hal itu disebut sebagai kegiatan gangster, namun lebih tepat bila diidentifikasikan sebagai proses dagang ataupun kegiatan berkumpul suatu kelompok non geng. Ada kesamaan terhadap apa yang di temukan Rob White dan apa yang ada di Indonesia.

Ada hubungan timbal balik antara individu dan geng, karena geng memberi pengaruh kuat terhadap individu tersebut. Geng remaja menunjukkan aktivitas kejahatan berbasis kelompok yang semakin serius dan banyak, mereka yang secara formal lebih terorganisir (Fagan, 1989)

 

 

³ Rob white melakukan kajian dan penelitian tentang Geng-geng remaja di beberapa negara, dan salah satu yang sangat menjadi perhatian Rob White adalah Asutralia.

Identifikasi Geng dan Kejahatan Terorganisir

 

Identifikasi gangster bila ditinjau dari sisi usia tidak se sederhana pendefinisian geng remaja. Ada kecenderungan terhadap perekrutan anggota anak kecil dan anak yang lebih tua dalam geng remaja, tetapi yang paling banyak bertambah jumlah anggota anak yang lebih tua (Howell, 1998; Moore, 1990; Spregel, 1995). Usia para anggota berkisar antara 12 sampai 24 tahun (Howell, 1998) usia ini jelas-jelas mencakup pula remaja akhir.

Geng-geng yang anggotanya dari berbagai usia bukannya tidak lazim (Hazlehurst dan Hazlehurst, 1998) dan beberapa teoritisasi geng, seperti Knox (1995), menyatakan bahwa pemikiran tentang geng remaja itu sendiri semakin sulit untuk menentukan semakin meningkatnya hubungan antara yang secara tradisional dianggap sebagai geng remaja dengan kejahatan geng yang terorganisir, yang mencakup para anggota dari tingkat usia yang lebih beragam.

Bila dilihat identifikasi usia gangster secara umum tersebut di atas, tentunya berbeda dengan identifikasi gangster di berbagai negara. Di Amerika Serikat usia rata-rata para anggota geng remaja berkisar antara 17 samapai 18 tahun (Curry dan Decker, 1998) Artikel dari Scott Craig tentang gejala geng di Amerika Serikat mencatat bahwa para perempuan bisa menjadi anggota geng, tetapi masih cukup jelas kalau anggota geng di seluruh dunia ini kebanyakan adalah laki-laki. Di Indonesia sendiri bila diidentifikasi banyak gangster yang terbentuk karena adanya sebuah perasaan senasib, perasaan saling memiliki, hingga ego kelompok tentunya bila dianalisa berasal dari berbagai latar belakang usia maupun jenjang pendidikan. Sebagai contoh, anggota geng motor di Kota Bandung biasanya berusia antara 14-32 tahun dan umumnya berjenis kelamin laki-laki. Tingkat pendidikan antara SMP hingga perguruan tinggi. Mereka menjadi geng motor biasanya karena ajakan teman sekolah maupun lingkungan. Mereka juga bangga dengan statusnya sebagai anggota geng motor. Ego yang tinggi itu lalu menyatu dengan agresifitas perilaku.4

 

 

 

4 Epilog yang ditulis oleh Ade Makruf dalam buku Geng Remaja, Fenomena dan Tragedi Remaja di Indonesia dengan judul “Maskulinitas Geng Motor di Bandung, Jawa Barat”.

 

Disepakatinya aktivitas illegal sebagai karakteristik utama dari aktivitas geng memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang penting tentang hubungan antara kejahatan perseorangan, kejahatan geng dan kejahatan terorganisir. Jika seorang individu yang merupakan anggota suatu geng melakukan kejahatan, kapan kejahatan itu bisa dipahami sebagai kejahatan perseorangan dan kapan bisa dipahami sebagai kejahatan geng. Ada hubungan timbal balik antara invividu dan geng, karena geng memberi pengaruh kuat terhadap individu tersebut. Pada saat yang sama, kebutuhan pribadi anggota geng dalam tingkat tertentuharus diakomodasi oleh geng itu.

Kemampuan sebuah geng remaja untuk melakukan aktivitas kriminal pada tingkat tertentu adalah tergantung pada struktur dan taraf organisasinya. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami hubungan antara geng remaja dengan kejahatan terorganisir, dalam aktivitas seperti halnya perdagangan obat bius. Sejumlah teoritisasi tentang geng mengidentifikasi hadirnya kelas bawah yang anggota-anggotanya dikucilkan masyarakat ini sebagai ladang subur untuk berlangsungnya perkembangan dan kelangsungan hidup geng remaja (Bursik dan Grasmick, 1993; Huff, 1992; Moore, 1991). Faktor psikologis pribadi dan faktor keluarga bisa berfungsi sebagai faktor pencegahan atau sebagai faktor penentu tambahan bagi mereka yang berada dalam komunitas-komunitas marjinal. Ketidakteraturan keluarga, perilaku kasar, dan perilaku buruk orang tua terhadap pemerintah dan komunitas meningkatkan resiko orang-orang muda yang sudah terpinggirkan itu untuk menjadi anggota geng.

 

Gangster Remaja dan Realitas Pemuda ke Indonesiaan

 

            Gangster, bagaimanapun keadaanya di mata banyak orang selalu identik dengan sebuah kekerasan. Banyak yang melatarbelakangi hal ini, bisa karena adanya ego, perselisihan, juga karena adanya doktrin yang sengaja ditanamkan untuk bersikap represif, walaupun anggotanya tidak tahu menahu asal-usul tentang sebuah perselisihan / permusuhan yang ditanamkan. Berbicara tentang gangster di Indonesia, tentunya tidak bisa lepas dari dua kota bunga yang tak lain adalah Bandung dan Malang. Di dua kota ini Pola pertumbuhan gangster yang bisa diidentifikasi mereka mengadopsi geng-geng di Amerika Serikat ini mengalami pertubuhan pesat, di Bandung sejarah geng anak muda berlangsung sejak lama. Pada tahun 1950 an terdapat kelompok remaja yang disebut cross boy, Tiger Mambo adalah geng yang terkenal di kalangan cross boy. Anak muda yang umumnya Indo-Belanda keturunan Ambon itu biasa berkumpul di sekitar jalan Riau (Jalan R. E. Martadinata). Mereka sangat disegani karena anggotanya pemberani dan jago berkelahi. Hingga pada 1970 an bermunculan geng-geng seperti NC (New Chicago) di jalan Cikaso, kemudian Dollars, BBC (Buahbatu Boys Club), AMX ( Anak Muda Xavaleri), CD (Corps Dago), Agothax (Anak Goblok Tak Berontak), Agedud (Anak Gembel Gang Dudukuy), dan Cola (Cokor Lodog). Hingga pada perkembangannya gang-geng di kota ini berkembang hingga masuk dalam dunia otomotif. Hal ini bisa dilihat dari maraknya geng-geng motor yang biasa kebut-kebutan di jalan sekitar Bandung, bahkan tidak jarang melakukan kekerasan terhadap pengguna jalan lain hingga melakukan pengrusakan. Sebut saja geng-geng seperti XTC (Exalt to Coitus) yang berdiri di daerah Guruminda, kota Nandung pada 1982, Brigez (Brigade Zeven, Brigade Setan, Brigade Gestapu) berdiri di SMA Negeri 7 Bandung pada kurun 1980 an, kemudian M2R (Moonraker) pada tahun 1978, GBR ( Grab on road) yang didirikan siswa SMP 2 Bandung. Keempat geng tersebut terakhir adalah geng yang tetap bertahan hingga saat ini, yang cenderung anarkis dalam berkendara di jalan raya dan sering melakukan tindakan represif.

Umumnya geng-geng di Bandung pada masa itu sudah menunjukkan kecenderungan tindakan kekerasan. Pada masa itu para anggota geng juga tidak sedikit yang akrab dengan penggunaan ganja (mariyuana). Bisa jadi ini karena pengaruh dari musisi barat, termasuk tokoh reggae Bob Marley, yang mereka idolakan. Namun demikian aktivitas geng di Bandung tidak selalu buruk. Beberapa geng justru memfasilitasi kegiatan olahraga dalam rangka memperingati hari kelahiran geng mereka.

Di Kota Malang sendiri dunia gangster mulai muncul sejak 1960 an, hingga mencapai puncaknya pada akhir 1980 an, dan saat ini seolah gangster di kota ini lenyap dari peradaban. Ada hal menarik yang menjadikan ini terjadi di kota Malang. Persaingan yang ketat dalam menjalani hidup dan jiwa keras (bukan berarti kasar) arek-arek Malang, pada era 60 an hingga pertengahan 90 an memunculkan berbagai kelompok-kelompok yang sangat fanatik terhadap daerahnya, walaupun dalam satu lingkup Malang. Dari catatan Kompas, sebelum Arema lahir sebagian kawula muda Kota Malang tersekat dalam pelbagai geng. Misalnya, Argom (Armada Gombal), Prem (Persatuan Residivis Malang), Saga (Sumbersari Anak Ganas), Van Halen (Vederasi Anak Nakal Halangan Enteng), Arpanja (Arek Panjaitan), Arnak (Armada Nakal ), Anker (Anak Keras), SAS (Sarang Anak Setan), Aregrek (Arek Gang Gereja Kayutangan), Ermera. (kompas, 2011). Selain itu dari catatan penulis terdapat juga geng-geng seperti Arghomz (Kidul Dalem+Temenggungan), Arpus/Black Mbik (Kidul Pasar), Moprat (Kudusan), Anchor (Jodipan), Arpol (Polehan), GAS (Kotalama+Muharto), Inggris (Kasin), Jepang (Sukun), Arembo (Mbunul), Arthur (Turen).

Kegiatan geng-geng ini cenderung pada hal-hal negatif. Misalnya kubam (mabuk-mabukan), ngisruh (membuat kerusuhan), nggelek (narkoba), tawuran, kriminalitas. Sebagian geng juga dimanfaatkan untuk kepentingan politik tertentu.

Hingga kini, masih dikenang nama-nama tokoh geng legendaris seperti Fauzi alias Gozi, Si Nyawa Rangkap Tamin, Hanafi, Joni Mangi, Mariso, Birowo, Mochtar. Sebagian dari mereka hilang saat musim penembakan misterius (petrus) di tahun 1980-an. Setelah lahir Arema, kawula muda itu mulai berimpun dalam Aremania dan meninggalkan kehidupan geng. Dengan jargon “salam satu jiwa Arema”, mereka membangun persaudaraan.

Satu hal menarik yang diungkapkan oleh mantan anggota gangster Malang sebagai berikut :

 

‘’Tahun 1970-1980-an, anak muda Kota Malang sedang gandrung membuat geng-geng. Mereka bergabung dalam geng-geng ini agar memiliki identitas. Tujuan adanya geng saat itu, bukan untuk berbuat kejahatan, tetapi sebagai suatu kesatuan agar bisa mempertahankan hidup, mencari makan. Itu saja, kok!’’ ungkap HM Mochtar.

 

Hal ini lah yang membuat gangster Malang berbeda dengan gangster di berbagai daerah di Indonesia. Mereka membuat gang bukan untuk tujuan kriminal atau sekedar menunjukkan identitas maskulinitas, tapi mereka membuat gang untuk memperkuat identitas. Yang menarik gangster di Malang bertolak belakang dengan fenomena yang ada di Bandung. Bila di Bandung budaya gangster tumbuh semakin pesat, namun yang terjadi di Malang, dunia gangster semakin tergerus oleh perkembangan zaman, hal ini tidak lepas dari lahirnya AREMA yang awalnya hanya AREMA dalam arti sempit sebagai tim sepakbola, namun meluas menjadi AREMA sebagai jatidiri dan identitas Arek Malang. Tidak ada lagi ungkapan “Aku arek Polehan“/“Aku arek Jodipan”/”Aku arek Lawang”/”Aku arek Dinoyo” , saat ini semua menjadi satu, “ Aku Arek Malang “. Inilah daya magis Arema, yang jarang tersentuh kalangan atas, tapi mampu mempersatukan grassroot.

Perilaku gangster yang memang cenderung ke arah negatif sudah pasti meresahkan masyarakat, tapi bukan berarti untuk mengatasinya dengan tindakan represif. Seperti apa yang dilakukan pemerintah era orde baru dengan menggunakan system Petrus ( Penembak Misterius ). Dengan melakukan petrus hanya akan memutus satu mata rantai dunia premanisme, tapi dunia premanisme itu akan tetap subur sesuai perkembangan zaman apabila suatu bangsa tidak mampu menyeimbangkan tingkat kesejahteraan antara kaum atas dan kaum grassroot. Hal ini mendapat banyak kritik, salah satunya oleh H.M. Mochtar yang juga mantan gangster.

 

‘’Adanya petrus itu menunjukkan jika pemerintah tidak bisa membina anak muda. Mereka sudah putus asa, karena itu mereka mengambil jalan pintas dengan menembak anggota geng satu persatu seperti itu,’’ ungkap Mochtar.

 

Selain itu, masih banyak lagi solusi terbaik dalam mengatasi permasalahan ini, seperti dimulai dengan pendekatan personal dari keluarga, pembinaan dan bukan pembinasaan dari pemerintah sendiri, pendidikan spiritual dari pemuka agama, dan memberikan tempat berekspresi serta tempat untuk menyalurkan energy positif bagi mereka. Sungguh ironi memang, bangsa yang besar dengan jumlah pemuda yang berlimpah ruah, tidak mampu dimaksimalkan untuk regenerasi masa depan bangsa, hanya sebagian pemuda yang mampu terdidik secara langsung melalui pendidikan formal dan pemuda yang secara sadar untuk mengikuti proses pendidikan baik formal maupun non formal, namun justru pemuda era global bangsa ini kebanyakan hanya sebagai pelengkap penderitaan bangsa.

 

 

Pustaka Tambahan

 

 

Bursik, R.J., dan H. G. Grasmick. 1993. Neighborhoods and Crime: The Dimensions of Affective Community Control. New York: Lexington Books.

Kompas. 2011. Jangan Sampai Hidupkan Geng-gengan Lagi. http://www1.kompas.com/Jangan.Sampai.Hidupkan.Geng.gengan.Lagi.html, (online). diakses 1 April 2012.

Lukmantoro, Triyono, “Maskulinitas Remaja Pria”, Kompas, 30 Nenember 2007.

Piliang, Iwan. 2007. Motor V: Dari Geng Nero Hingga Brigez. http://www.apakabar.ws/index2., (online). diakses 1 April 2012.

White, Rob. 2008. Geng Remaja, Fenomena dan Tragedi Geng Remaja Dunia. Yogyakarta: Gala Ilmu Semesta.

Zaeni, Adinda Noer, “Operasi Preman di Mata Mantan Anggota Geng”, Malang Post, 19 November 2008.