Kedatangan orang Maluku di Rotterdam, Belanda (1951)/Sumber: Wikipedia

Dari Bangsal menuju Pergaulan Bebas, Perubahan Identitas Orang Maluku di Belanda

Imigran Maluku, Dulu dan Kini

Kedatangan orang Maluku di Rotterdam, Belanda (1951)/Sumber: Wikipedia
Kedatangan orang Maluku di Rotterdam, Belanda (1951)/Sumber: Wikipedia

            Perubahan formasi identitas pada masyarakat Maluku, secara garis besar berhubungan erat dengan erat dengan pola-pola transformasi yang terjadi secara internal dalam keluarga, seperti eksogami, jarak kebudayaan, antara anak dan orang tua, serta secara eksternal terjadi karena negosiasi dan interaksi dengan etnis dan bangsa lain, seperti migran Turki, Maroko, dan West Antilles. Sepenggal kalimat itu yang di lontarkan Hatib Abdul Kadir, Antropolog Universitas Brawijaya yang melakukan penelitian tentang orang Maluku di Belanda ketika disampaikan dalam Forum Diskusi Kebangsaan dengan tema “ Dari Bangsal menuju Pergaulan Bebas, Perubahan Identitas Orang Maluku di Belanda “ .

            Bertempat di Aula Perpus Komkep Malang. pada Selasa 27 Maret 2012. Diskusi tentang pemaparan penelitian Hatib Abdul Kadir ini berlangsung tertutup namun menarik dengan peserta yang hadir dari berbagai latar belakang pendidikan dan disiplin ilmu. Diskusi yang di moderatori Eki Robbi Kusuma ini menjelaskan tentang awal kedatangan Maysarakat Maluku di Belanda hingga perkembangan masyarakat Maluku hingga generasi ke tiga di negeri kincir angin tersebut dengan disertai ulasan latar belakang dan penjelasan yang menarik.

            Hatib menjelaskan, Orang Maluku awalnya datang ke Belanda hanya sementara, perjalanan ke Belanda merupakan perjuangan menuntut kedaulatan tanah Maluku, bukan sebagai pelarian dari keruwetan politik pasca kolonial. Dari sekitar 12.500 imigran Maluku yang tiba di Belanda pada 1951, dari jumlah tersebut 3000 diantaranya adalah tentara KNIL ( Koninlijk Nederlands Indisch Leger ), dengan spesifikasi 300 tentara baret merah dan hijau westerling yeng terkenal kejam. Mereka tiba bersama keluarga dan mayoritas beragama Kristen walaupun juga ada sebagian yang beragama Katolik Roma dan Islam, sebagian dari mereka sepakat dengan ide kemerdekaan RMS ( Republik Maluku Selatan ) yang pada 1950 dikumandangkan oleh Soumokil dan J.A. Manusama di Maluku.

            Ketika tiba di Belanda mereka ditempatkan di kamp-kamp konsentrasi yang pernah menjadi saksi pembantaian umat Yahudi. Mereka tinggal terpencil dengan kamp yang di kelilingi padang ilalang, hal itulah yang menyebabkan orang Maluku generasi pertama di Belanda ini memandang orang asing dengan penuh curiga.

            Generasi kedua orang-orang Maluku di Belanda mulai frustasi terhadap persoalan identitasnya, mereka bingung, jika disebut Indonesia bukan, disebut Belanda juga bukan. Hal itu lah yang menyebabkan mereka melakukan Radikalisasi gerakan pada kurun antara 1974 hingga 1978. Hingga generasi ketiga, mereka mulai mendapat kewarganegaraan penuh dengan diperbolehkan ikut serta dalam pemilu dan mendapatkan visa, pada generasi ini mereka mengibarkan bendera RMS tidak lagi untuk menuntut kemerdekaan dan kedaulatan, melainkan sebagai identitas bahwa mereka migran Maluku dan berbeda dengan migran lain.